Senin, 19 Desember 2011

Ora ngapak, dhupak! : Sebuah Upaya Kembali Mengakar Dalam Bentuk

Oleh: Dwi S. Wibowo

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan seloroh yang biasa diucapkan orang-orang pesisir cilacap untuk meneguhkan identitas mereka sebagai kaum nelayan yang jauh dari entitas kraton sebagai tonggak utama budaya jawa, begini bunyi kalimat yang kerap mereka ucapkan “ora ngapak, dhupak!” artinya kurang lebih begini “tidak bicara dalam logat ngapak, maka akan ditendang” sebuah kalimat pendek yang dirasa cukup menegaskan maknanya.

Barangkali slogan itulah yang membawa badruddin emce-seorang penyair yang notabene lahir dan tinggal di kroya(sebuah daerah di cilacap)- tetap berada dalam identitasnya sebagai seorang yang lahir dan besar di kawsan pesisir cilacap ketika turut serta menulis puisi dalam ranah yang luas. sebagai seorang penyair-yang menulis puisi dalam bahasa indonesia- seharusnya seorang badruddin sadar benar tentang bentuk pusi yang ia tulis, bukan malah justru seolah ingin melupakan prosesnya manulis puisi seperti yang saya tangkap dalam karya-karyanya. Seolah-olah penyair ingin melepaskan diri dari tanggung jawabnya setelah menulis puisi, bahkan ketika ia sendiri mungkin membaca ulang puisi yang telah ditulisnya. Dalam puisi-puisinya kita sebagai pembaca akan dibawa untuk menyelami entitas dunia masyarakat nelayan di pesisir cilacap, namun jangan berharap kita akan mengenal jauh seperti apa laku hidup dan budaya masyarakat di sana, sebab kita hanya akan sebatas dibawa pada kebiasaan-kebiasaan masyarakat tersebut dalam bertutur semata.

Berbeda dengan goenawan mohamad dalam puisi-puisinya yang melampirkan entitas budaya jawa dalam bentuk isi, atau pemaknaan yang misal saja kita jumpai dalam puisi asmaradana yang berkisah tentang keerangkatan damar wulan yang ditangisi oleh anjasmara, sebuah entitas dari dunia cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat jawa. Maupun dalam puisi goenawan mohammad yang berjudul parikesit yang bercerita tentang raja parikesit yang berada di menara tertinggi untuk menghindari kutukan naga taksaka, sebuah mitos yang diangkat dari dunia wayang yang juga banyak berkembang kini dalam perpuisian indonesia modern, seperti diusung oleh triyanto triwikromo, suminto a. Sayuti, maupun gunawan maryanto.

Sebagai penyair, badruddin emce barangkali ingin menmpilkan warna lokal sebagai sebuah pilihan atas berbagai variasi gaya penulisan puisi yang ada. Namun upayanya yang sebatas terhenti pada bentuk-bukan isi- justru memberi kegamangan bagi pembaca awam- atau tepatnya saya tegaskan bahwa terjadi kesulitan dalam pemaknaan- karena memang perlu kita sadari benar bahwa tidak semua orang mengerti bahasa dan cara bertutur seorang badruddin sebagai seorang anggota dalam masyarakat yang tinggal di daerah pesisir cilacap-dalam hal ini bukan sebagai penyiar-. Misal saja pilihan badruddin untuk menggunakan diksi-diksi dalam bahasa ngapak atau jawa banyumasan dan menggabungkannya dalam frase-frase berbahasa indonesia, tentu ini bukanlah semata menampilkan sebuah sensasi semata-melampirkan entitas lokal dalam puisi- namun lebih kita pahami sebagai cara seorang badruddin dalam bertutur dalam puisi yang barangkali terbawa kebiasaannya bertutur dalam masyarakat di kehidupannya sehari-hari. Lihat contoh berikut

Mata Pulebahas
............
Seperti apa mata Pulebahas
Aku tidak sembrangas yang kau kira.
Kemarilah berhadap-hadapan denganku!

.............

Kita jumpai sebuah diksi dari bahasa ngapak atau jawa banyumasan yaitu “sembrangas”, kata yang barangkali dalam bahasa indonesia memiliki padanan makna dengan kata “serakus”, tapi dalam puisi ini, badruddin lebih memilih menggunakan diksi dalam bahasa ngapak yang meski jelas memiliki padanan kata dalam bahasa indonesia, yang jelas alasan kesulitan menemukan padanan kata tentu tidak dapat kita amini, sebab ini tidak hanya terjadi dalam satu puisi, lihat contoh berikut

Jalan Lingkar Teluk Penyu
............
Menjelma bola, ujungnya thukul angin tenggara
Memperkuat desir makna!

...........

Tentu kita jumpai kembali penggunaan diksi dalam bahasa ngapak yaitu “thukul” yang jelas memiliki padanan makna dalam bahasa indonesia dengan kata “tumbuh”. Sebuah pilihan gaya yang benar dipertahankan oleh seorang badruddin emce sebagai seorang penyair yang sadar benar menulis puisi dengan bahasa indonesia namun menampilkan cara bertutur yang gagap lancar. Sama seperti mendengar ketika orang-orang pesisir cilacap kita ajak bicara dengan bahasa indonesia, tentu diksi dan logat mereka tak akan seratus persen mampu mereka tinggalkan, setidaknya ada yang terbawa dalam ucapan-ucapannya. Namun demikian setidaknya ada sedikit pula yang mampu kita pahami, meski tidak sepenuhnya. Seperti halnya puisi-puisi badruddin emce yang tentu akan menghadapi benturan-benturan dengan para pembaca awam ataupun pembaca-pembaca dari luar kebiasaaan bertuturnya. Sehingga puisi akan mengalami penurunan perannya sebagai media komunikasi antara panyair dengan pembaca.seperti halnya nietsche yang meragukan bahasa untuk mengungkapkan secara memadai segala realitas. Begitu pula kata chairil anwar “dan tetap ada yang tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah”, begitulah peran bahasa kira-kira dalam sebuah puisi, tidak seratus persen benar dapat kita pahami, sebab lahirnya metafor dan gaya bertutur yang variatif tentu melahirkan berbagai pemaknaan maupun interteks dari sebuah puisi. Memang demikianlah puisi. Dan itu pula yang disadari benar oleh badruddin, yang meski tahu tak semua pembaca mampu mengikuti cara bertuturnya, ia tetap saja berdiam diri dan kukuh dengan pilihannya dalam berpuisi, seolah berupaya lepas dari tanggung jawab, atau enggan menjawab.

_, yogya, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar